09 October 2012

Makalah Perkembangan Teknologi Komunikasi

1.1    Latar Belakang Masalah
Perkembangan media teknologi saat ini semakin banyak dalam kehidupan sosial masyarakat, seperti semakin meluasnya penggunaan internet dan handphone. Awalnya perkembangan teknologi tersebut adalah untuk mempermudah manusia dalam melakukan berbagai hal. Tapi, belakangan justru malah menimbulkan masalah dalam kehidupan sosial, contoh kecil adalah banyak terjadi timbul kasus yang disebabkan oleh media jejaring sosial facebook dan twitter. Ini adalah dampak dari penggunaan media teknologi informasi.
Dalam sejarah masyarakat, manusia menandakan penggunaan media komunikasi oleh manusia untuk mengatasi jarak yang lebih jauh satu dengan yang lainnya, yang tidak mungkin dicapai hanya dengan berbicara dalam jarak yang normal. Menurut O’Breien (dalam Bungin 2009) perilaku manusia dan teknologi memilikki interaksi dalam lingkungan sosioteknologi. Ada lima komponen perilaku manusia dan teknologi dalam berinteraksi meliputi : (1) struktur masyarakat, (2) sistem dan teknologi informasi, (3) masyarakat dan budaya, (4) strategi komunikasi, (5) proses sosial.
Penggunaan media teknoloi komunikasi di dalam kehidupan pribadi masyarakat sekarang ini dapat dilihat dari banyak digunakannya personal komputer (notebook) dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu dengan mudah dapat dilihat masyarakat, khususnya pada masyarakat perkantoran yang menggunakan telepon seluler (handphone).
Tahun 2008 adalah tahun dimana Indonesia telah memasuki era globalisasi. Sebuah zaman dimana masyarakat harus bisa mengunakan teknologi multimedia yang baru. Mau tidak mau kita harus menjalaninya. Tidak hanya itu dunia penyiaran juga meningkat. Terhitung lebih dari 10 stasiun televise menghiasi layar kaca televise kita.itu belum termasuk televise daerah.
Dari stasiun televisi itu mereka menawarkan acara-acara yang mereka prediksi sangat dibutuhkan oleh masyarakat informasi. Mulai dari acara hiburan,olahraga, dll. Dampak positifnya masyarakat menjadi punya banyak pilihan acara. Jadi kalau mereka bosan mereka tinggal pindah channel. Dampak negatifnya kemungkinan akan terjadi persaingan yang tidak sehat diantara stsiun televise-televisi itu. Sebut saja MNC(RCTI,TPI,Global TV) dengan Duo Trans(Trans TV, Trans 7).memang kita belum dengar ada berita yang kurang menyenangkan dari dampak itu tapi kemungkinan itu masih akan mungkin terjadi. Tidak hanya itu masyarakat pasti juga akan bingung jika acara televise pada saat itu sedang bagus.

1.2    Rumusan Masalah
Dari paparan latar belakang masalah di atas dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut :
a.  Apa konsekuensi Media Massa ( TV , Radio ) bagi Masyarakat ?
b. Apa konsekuensi Media Teknologi Komunikasi bagi Masyarakat ?

1.3    Tujuan Pembahasan
Dari paparan latar belakang masalah dan rumusan masalah di atas maka tujuan makalah ini adalah untuk :
a.   Mengetahui konsekuensi Media Massa ( TV, Radio ) bagi Masyarakat
b.   Mengetahui konsekuensi Media Teknologi Komunikasi bagi masyarakat


2.1   Konsekuensi Media Massa ( TV , Radio ) bagi Masyarakat
Perkembangan teknologi telah sedikit mengalami kemajuan yang selangkah lebih baik lagi, misalnya bentuk komunikasi dalam huruf pictograf yang digunakan oleh bangsa Sumeria, Hierogliph oleh bangsa Mesir Kuno. Pada masa itu kedua jenis huruf ini juga sering digunakan ketika raja memberikan peraturan semacam tata tertib bagi masyarakatnya yang di pasang di tengah-tengah kota dimana bentuknya seperti bangunan tugu, yang dikenal sebagai UU berbentuk tugu peringatan.
      Kemajuan dari teknologi komunikasi dirasakan lebih baik lagi setelah ditemukannya kertas oleh Bangsa Cina yang terbuat dari serat daun Papyrus. Perkembangan ini bahkan sampai sekarang ini masih digunakan dan sangat dirasakan manfaatnya bagi umat manusia. Misalnya kertas digunakan dalam mencetak koran atau surat kabar, majalah, buku dan lain sebagainya.

Peran media massa dalam kehidupan sosial, terutama dalam masyarakat modern ada enam perspektif dalam hal melihat peran media.
Pertama, melihat media massa sebagai window on event and experience. Media dipandang sebagai jendela yang memungkinkan khalayak melihat apa yang sedang terjadi di luar sana. Atau media merupakan sarana belajar untuk mengetahui berbagai peristiwa. Kedua, media juga sering dianggap sebagai a mirror of event in society and the world, implying a faithful reflection. Cermin berbagai peristiwa yang ada di masyarakat dan dunia, yang merefleksikan apa adanya. Karenanya para pengelola media sering merasa tidak “bersalah” jika isi media penuh dengan kekerasan, konflik, pornografi dan berbagai keburukan lain, karena memang menurut mereka faktanya demikian, media hanya sebagai refleksi fakta, terlepas dari suka atau tidak suka. Padahal sesungguhnya, angle, arah dan framing dari isi yang dianggap sebagai cermin realitas tersebut diputuskan oleh para profesional media, dan khalayak tidak sepenuhnya bebas untuk mengetahui apa yang mereka inginkan. Ketiga, memandang media massa sebagai filter, atau gatekeeper yang menyeleksi berbagai hal untuk diberi perhatian atau tidak. Media senantiasa memilih issue, informasi atau bentuk content yang lain berdasar standar para pengelolanya. Di sini khalayak “dipilihkan” oleh media tentang apa-apa yang layak diketahui dan mendapat perhatian. Keempat, media massa acapkali pula dipandang sebagai penunjuk jalan atau interpreter, yang menerjemahkan dan menunjukkan arah atas berbagai ketidakpastian, atau alternative yang beragam. Kelima, melihat media massa sebagai forum untuk mempresentasikan berbagai informasi dan ide-ide kepada khalayak, sehingga memungkin terjadinya tanggapan dan umpan balik. Keenam, media massa sebagai interlocutor, yang tidak hanya sekadar tempat berlalu lalangnya informasi, tetapi juga partner komunikasi yang memungkinkan terjadinya komunikasi interaktif. Pendeknya, semua itu ingin menunjukkkan, peran media dalam kehidupan social bukan sekedar sarana diversion, pelepas ketegangan atau hiburan, tetapi isi dan informasi yang disajikan, mempunyai peran yang signifikan dalam proses sosial. Isi media massa merupakan konsumsi otak bagi khalayaknya, sehingga apa yang ada di media massa akan mempengaruhi realitas subjektif pelaku interaksi sosial. Gambaran tentang realitas yang dibentuk oleh isi media massa inilah yang nantinya mendasari respon dan sikap khalayak terhadap berbagai objek sosial. Informasi yang salah dari media massa akan memunculkan gambaran yang salah pula terhadap objek sosial itu. Karenanya media massa dituntut menyampaikan informasi secara akurat dan berkualitas. Kualitas informasi inilah yang merupakan tuntutan etis dan moral penyajian media massa.
Bertolak dari besarnya peran media massa dalam mempengaruhi pemikiran khalayaknya, tentulah perkembangan media massa di Indonesia pada massa akan datang harus dipikirkan lagi. Apalagi menghadapi globalisasi media massa yang tak terelakan lagi. Globalisasi media massa merupakan proses yang secara nature terjadi, sebagaimana jatuhnya sinar matahari, sebagaimana jatuhnya hujan atau meteor. Belum lagi membajirnya program-program tayangan dan produk rekaman tanpa dapat dibendung. Lantas bagaimana bagi negara berkembang seperti Indonesia menyikapi fenomena transformasi media terhadap perilaku masyarakat dan budaya? Bukankah globalisasi media dengan segala nilai yang dibawanya seperti lewat televisi, radio, majalah, Koran, buku, film, vcd dan kini lewat internet sedikit banyak akan berdampak pada kehidupan masyarakat? Saat ini masyarakat Indonesia sedang mengalamai serbuan yang hebat dari berbagai produk. Atau disebut juga Indonesia sedang kebanjiran informasi atau Overload.
Belum lagi beredarnya VCD porno yang sekarang beredar dimana-mana. Hal itu juga bisa menjadi dampak media. Walaupun media pornografis bukan barang baru bagi Indonesia, namun tidak pernah dalam skala seluas sekarang. Bahkan beberapa orang asing menganggap Indonesia sebagai “surga pornografi” karena sangat mudahnya mendapatkan produk-produk pornografi dan harganya pun murah. Kebebasan pers yang muncul pada awal reformasi ternyata dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat yang tidak bertanggungjawab, untuk menerbitkan produk-produk pornografi. Mereka menganggap pers mempunyai kemerdekaan yang dijamin sebagai hak asasi warga Negara dan tidak dikenakan penyensoran serta pembredelan. Padahal dalam undang-undang pers hal itu pasti sudah diatur. Dalam media audio-visualpun, ada Undang-undang yang secara spesifik mengatur pornografi. Globalisasi pada hakikatnya ternyata telah membawa nuansa budaya dan nilai yang mempengaruhi selera dan gaya hidup masyarakat. Melalui media yang kian terbuka dan terjangkau, masyarakat menerima berbagai informasi tentang peradaban baru yang datang dari seluruh penjuru dunia. Padahal, kita menyadari belum semua warga negara mampu menilai sampai dimana kita sebagai bangsa berada. Begitulah, misalnya, banjir informasi dan budaya baru yang dibawa media tak jarang teramat asing dari sikap hidup dan norma yang berlaku. Terutama masalah pornografi, dimana sekarang wanita-wanita Indonesia sangat terpengaruh oleh trend mode dari Amerika dan Eropa yang dalam berbusana cenderung minim, kemudian ditiru habis-habisan. Sehingga kalau kita berjalan-jalan di mal atau tempat publik sangat mudah menemui wanita Indonesia yang berpakaian serba minim mengumbar aurat. Di mana budaya itu sangat bertentangan dengan norma yang ada di Indonesia. Belum lagi maraknya kehidupan free sex di kalangan remaja masa kini. Terbukti dengan adanya video porno yang pemerannya adalah orang-orang Indonesia. Di sini pemerintah dituntut untuk bersikap aktif tidak masa bodoh melihat perkembangan kehidupan masyarakat Indonesia. Menghimbau dan kalau perlu melarang berbagai sepak terjang masyarakt yang berperilaku tidak semestinya. Misalnya ketika Presiden Susilo Bambang Yudoyono, menyarankan agar televisi tidak menayangkan goyang erotis dengan puser atau perut kelihatan. Ternyata dampaknya cukup terasa, banyak televisi yang akhirnya tidak menayangkan para artis yang berpakaian minim.

2.2  Konsekuensi Media Teknologi Komunikasi Informasi bagi Masyarakat
Penggunaan media teknologi komunikasi oleh masyarakat sekarang ini bisa berdampak positif maupun negatif. Dampak positif yang dirasakan oleh masyarakat adalah sebagai berikut. (a) dapat menciptakan pengalaman belajar yang bermakna, (b) memfasilitasi interaksi antarindividu, (c) memperkaya pengalaman belajar nilai – nilai sosial, (d) mempu mengubah suasana beajar nilai – nilai sosial budaya menjadi aktif, (e) meningkatkan efisiensi dan produktivitas, dan (g) mempermudah pengirian dan penerimaan informasi.
Fasilitas media teknologi komunikasi memudahkan orang untuk saling berinteraksi, meskipun dipisahkan oleh jarak geigrafis, tetapi dengan bantuan media , interaksi dapat dilaksnakan dengan mudah. Misalnya, penggunaan media internet telah tebukti mampu menjembatani interaksi antarmanusia secara massal. Dengan adanya interaksi tersebut, proses transaksi pesan akan diikuti oleh transaksi nilai – nilai sosial budaya.
Adanya media teknologi komunikasi setiap orang memiliki kesempatan untuk memperoleh pengalaman belajar nilaai – nilai sosial budaya orang lain, misalnya dengan menonton siaran televisi, indovidu memperoleh pengetahuan nilai – nilai sosial budaya yang dianut oleh masyarakat lain.
Sementara itu, beberapa dampak konsekuensi negatif p-engggunaan media teknologi komunikasi pada masyarakat meliputi : (1) hilangnya kesempatan berkomunikasi interpersonal, (2) mempertajam kesenjangan , (3) penggunaan media komunikasi dapat mengancam privacy, (4) seringkali terjadi pemborosan, (5) ketergantungan terhadap sistem dan kerentanan sistem, dan (6) kejahatan dan penyalahgunaan komputer.
Konsekuensi sosial dari perkembangan teknologi informasi bisa dilihat pada perubahan hubungan individu dengan individu, individu dengan komunitas , individu dengan media massa , komunitas dengan media massa, dan komunitas dengan lembaga sosial.

Kesimpulan
Sekarang di Indonesia telah memasuki era Globalisasi. Kita tidak mungkin untuk mengelak. Melalui media massa pun, kita dapat membangun opini publik, karena media mempunyai kekuatan mengkonstruksi masyarakat. Misalnya melalui pemberitaan tentang dampak negatif pornografi, komentar para ahli dan tokok-tokoh masyarakat yang anti pornografi atau anti media pornografi serta tulisan-tulisan, gambar dan surat pembaca yang berisikan realitas yang dihadapi masyarakat dengan maraknya pornografi, maka media dapat dengan cepat mengkonstrusikan masyarakat secara luas karena jangkauannya yang jauh. Dalam Sosiologi Komunikasi, dikenal adanya opinion leader atau pemuka pendapat. Mereka memiliki kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk bertindak laku dalam cara-cara tertentu. Melalui pemuka pendapat seperti tokoh agama, sesepuh desa, kepala desa, pesan-pesan tentang bahaya media pornografi dapat disampaikan.
Tapi yang lebih penting lagi adalah ketegasan pemerintah dalam menerapkan hukum baik Undang-Undang Pers, Undang-undang Perfilman dan Undang-Undang Penyiaran secara tegas dan konsiten di samping tentu saja partisipasi dari masyarakat untuk bersam-sama mencegah dampak buruk dari globalisasi media yang kalau dibiarkan bisa menghancurkan  negeri ini.



Referensi :  

1 comment:

Agar lebih baik lagi, silahkan isi comment-nya...